Sempat ngobrol dengan beberapa senior di kantor, obrolannya tentunya ga jauh-jauh. Sandi kapan Nikah? terus tak lupa mereka kasih tips-tips buat milih calon, maklum mereka sudah berpengalaman semua
^_^
Tips memilih pasangan hidup:
1. Carilah pasangan yang berasal dari daerah yang sama dengan tempat kita tinggal sekarang, atau paling tidak sejalur dengan daerah asal kita, atau berada ditengah-tengah antara daerah asal kita dan tempat tinggal kita saat ini, atau satu daerah dengan daerah asal kita. Jadi misalnya saya mau cari istri alternatifnya adalah orang bandung dan sekitarnya, orang jawa tengah dan sekitarnya, atau orang jawa timur terutama orang Situbondo. Berdasarkan petuah dari senior (hehehe) hal ini untuk mempermudah dalam proses lamaran, selain itu kalo mudik biar praktis dan mudah, hmmm bener juga sih.
2. Carilah pasangan yang bekerja, sudah jelas pasangan yang bekerja akan sangat membantu meringankan beban perekonomian rumah tangga. Apalagi kalo istriku nanti satu kantor…. beuh, kalo dapet bonus bisa kali 2 tuh.
3. Carilah pasangan yang tidak membawa beban keluarga, maksudnya calon pasangan kita kalo bisa berasal dari keluarga kecil, yang tidak terlalu banyak saudara baik itu kakak atau adik. Coba bayangkan kalau calon istri/suami terlalu banyak saudara kandung, misal adik jumlahnya 5 ekor saja dan semuanya masih ketjil2, kebayangkan istri/suami kita sebagai tulang punggung keluarga, lain itu kalo mudik kita harus siap Angpau yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit.
4. Carilah pasangan yang berasal dari keluarga berada, bahasa jujurnya Orang Kaya. Walopun kita tentunya tidak mengharapkan bantuan dari pihak mertua, tapi yah…setidaknya masa depan kita cukup cerah, hehehe.
Tips ini tidak harus dijalankan semua, karena memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan satu hal yang patut kita ingat, kita hanya bisa berusaha, selebihnya hanya Allah Subhanahu wata’ala yang telah mengatur takdir kita.
Segala hidup, mati dan jodoh manusia ada didalam genggaman Sang Maha.
Ingin hubungan Anda dengan pasangan lancar dan langgeng?, Bagaimanakah cara membangun kehidupan cinta yang sehat dengan Si Dia?. Berikut tips-nya:
* Bijaksana Memilih Pasangan.
Perhatikan karakter, kepribadian, nilai diri, kemurahan hati, cara berbicara, tindakan, serta cara bagaimana dia berhubungan dengan orang lain.
* Ketahui Pandangan dan Keyakinan Si Dia.
Tentu Anda tak ingin jatuh cinta kepada seseorang yang memiliki reputasi buruk di dalam hubungan percintaannya, bukan? Misalnya saja, Si Dia sering ketahuan tidak jujur dan kerap berbohong.
* Jangan Rancukan Seks Dengan Cinta.
Terutama di awal suatu hubungan, ketertarikan dan kesenangan melakukan hubungan seks sering disalahartikan sebagai cinta yang menggebu dari pasangan.
* Mengerti Kebutuhan dan Berdiskusi Secara Jelas.
Banyak orang, baik pria maupun perempuan, takut untuk menyatakan kebutuhannya. Ingat, kedekatan tak dapat berjalan baik tanpa kejujuran, dan pasangan bukanlah seorang paranormal atau ahli membaca pikiran.
* Saling Menghargai.
Baik di dalam maupun di luar hubungan cinta, sebaiknya Anda dan Si Dia saling memperlihatkan sikap yang layak dihargai masing-masing pasangan.
* Anda dan Si Dia Bisa Menjadi Tim Kompak.
Artinya, Anda berdua merupakan dua individu yang unik, yang mempunyai perspektif dan kelebihan-kelebihan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini merupakan nilai plus dari suatu tim yang kompak dalam melakukan banyak hal berdua.
* Tahu Cara Mengelola Perbedaan.
Belajarlah cara mengatasi perasaan negatif yang tidak terhindarkan, yang disebabkan oleh perbedaan antara Anda dan si Dia. Menutup diri atau menghindari konflik juga bukan suatu cara mengelola perbedaan yang baik!
* Jangan Malu Bertanya.
Jika Anda tidak mengerti atau tak menyukai salah satu hal yang dilakukan si Dia, tanyakan kepadanya. Bicarakan secara terbuka dan kembangkan diskusi di dalam suasana yang positif, dan jangan pernah ber-asumsi.
* Atasi Masalah yang Timbul.
Sebagian besar kesalahan yang terjadi dalam suatu hubungan cinta, dapat dilacak dari munculnya rasa sakit hati, atau sikap yang merubah menjadi defensif terhadap pasangannya, sehingga terciptalah dua orang yang saling merasa asing atau bermusuhan.
* Belajar Bernegosiasi.
Oleh karena kebutuhan manusia dan tuntutan kehidupan selalu berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu, maka hubungan cinta yang sehat dan baik dapat dinegosiasikan ulang setiap saat bersama si Dia.
* Mendengarkan Kekhawatiran dan Keluhan si Dia
Jangan berlakukan sikap menghakimi terhadap si Dia. Buka diri dan berikan empati kepada calon pasangan Anda.
* Berusaha Pertahankan Kedekatan.
Hubungan yang baik dan sehat, bukan merupakan tujuan akhir, tetapi merupakan proses jangka panjang yang perlu selalu dijaga dan dipertahankan, melalui perhatian yang konstan dan teratur.
* Miliki Pandangan Jangka Panjang.
Perkawinan merupakan kesepakatan bersama untuk menjalani dan menghabiskan kehidupan hingga hari tua nanti. Teliti lagi impian Anda dengan si Dia secara teratur, untuk memastikan Anda berdua berada di jalan dan jalur yang selalu sama.
* Seks yang Baik.
Seks itu sangat mudah dilakukan, tetapi menjaga kedekatanlah yang justru sulit. Kedekatan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, penyingkapan diri, berbagi kekhawatiran dan ketakutan, demikian juga kesedihan, harapan serta impian. Jadi, jangan pernah pergi tidur dalam keadaan marah.
* Minta maaf.
Setiap orang bisa membuat kesalahan. Memperbaiki, atau berniat memperbaiki kesalahan, sangat penting bagi kebahagiaan Anda berdua, juga dalam hal perkawinan.
* Hindari Ketergantungan Berlebihan.
Tergantung kepada seseorang tidaklah buruk, tetapi sangat tergantung pada pasangan untuk hal-hal kecil merupakan celah ketidakbahagiaan bagi kedua pasangan.
* Jaga Harga Diri dan Rasa Percaya Diri.
Lebih mudah bagi seseorang untuk menyukai dan berada di dekat Anda jika Anda pun menyukai diri sendiri.
* Perkaya Hubungan Anda berdua.
Ciptakan minat-minat baru ke dalam hubungan cinta Anda agar hubungannya dengan Si Dia semakin kaya. Semakin besar gairah kehidupan yang Anda miliki dan berbagi bersama pasangan, semakin kaya hubungan Anda berdua.
* Kerjasama yang Baik.
Berbagilah tanggung jawab dengan pasangan. Hubungan cinta yang sehat akan berhasil hanya jika terjadi secara dua arah, yaitu dengan saling memberi dan menerima.
* Ketahui Pasang Surut Hubungan.
Di mana pun juga, setiap hubungan cinta pasti akan melewati pasang surutnya masing-masing. Melalui masa-masa sulit bersama pasangan, akan membuat hubungan Anda menjadi lebih kuat.
* Miliki Kepekaan Atas Hubungan yang Buruk
Jangan melarikan diri jika hubungan cinta mulai memburuk. Gunakan pengalaman buruk ini sebagai cermin untuk melihat ke dalam diri, agar bisa mengerti apa yang telah Anda berdua ciptakan dalam hubungan ini.
* Tak Ada Cinta yang Mutlak.
Jika Anda belajar cara-cara atau tips baru untuk berinteraksi dengan Si Dia, perasaan-perasaan cinta akan selalu bisa muncul dan muncul lagi, bahkan dapat lebih kuat dari sebelumnya.
Tips Cara Memilih Calon Isteri/Istri/Jodoh/Pacar & Kriteria Pemilihan Pasangan Hidup Yang Baik
Wed, 16/01/2008 - 12:28am — godam64
Menikah alias kawin yang baik hanya dilakukan satu kali seumur hidup dan kita akan terus hidup bersama dengan orang yang kita pilih sebagai isteri kita beserta anak yang mungkin kita hasilkan dari pernikahan itu. Memilih pasangan hidup yang tepat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup dengan banyak aspek dan faktor kriteria pemilihan yang harus dihitung dengan matang. Gadis atau janda semua sama saja di mana anda harus melakukan penjajakan yang cukup sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Kesalahan memilih wanita / cewek / perempuan yang kita nikahi akan berdampak buruk pada kualitas hidup kita di masa depan. Cerai adalah pilihan yang sangat buruk yang bisa diambil ketika semua cara dan upaya telah dicoba untuk membuat hubungan menjadi baik tidak berhasil dan dapat membahayakan jika terus dibiarkan.
Pacaran merupakan salah satu upaya untuk menemukan pasangan hidup yang tepat. Pacaran yang baik tidak melakukan apa yang boleh dilakukan pasangan yang sudah menikah. Melakukan hubungan suami istri yang tidak semestinya justru akan berdampak buruk pada hubungan setelah menikah maupun hubungan setelah menikah dengan gadis lain.
Berikut ini adalah Kriteria Pemilihan Calon Isteri Yang Baik :
1. Saling Jujur / Tidak Suka Bohong, Cinta Dan Setia
Mana ada orang yang suka dibohongi. Pilih wanita yang dapat dipegang kata-katanya dan hanya akan berbohong untuk kepentingan keluarga yang positif. Jika suka bohong anda akan dibuat pusing sama istri anda kelak. Wanita yang setia pada anda akan selalu mencintai anda dan akan selalu berada di samping anda ke mana pun anda pergi dan dalam kondisi apa pun. Cinta juga menjadi yang sangat penting, karena cinta adalah modal dasar dari hubungan suami istri yang baik dan sebaiknya sudah ada sejak status masih pacaran.
2. Penampilan Menarik
Sebaiknya anda mencari perempuan yang dari fisik anda suka namun bukan hasil permak atau dandan tebal. Menarik tidak harus selalu cantik, cakep, ayu, menor, seksi, imut, manis dan sebagainya, tetapi yang tidak membuat anda benci jika melihatnya. Sebisa mungkin cari yang jika anda prediksi puluhan tahun mendatang dapat tetap dapat membuat anda tersenyum bahagia ketika memandang wajahnya. Jangan lupa dengan penampilan anda sendiri ketika sudah menikah. Jangan buat si dia ilfil dan jadi benci sama anda.
3. Taat Ibadah
Ini hal yang penting bagi masa depan keluarga anda. Anak-anak anda nanti akan dibimbing lebih banyak oleh sang ibu. Jika ibunya ugal-ugalan nggak bener kelakuannya, maka bisa ditiru oleh anak. Cari wanita shalihah / solehah yang dapat mendidik anak-anak menjadi manusia yang berakhlak soleh dan mempengaruhi anda untuk beribadah lebih baik lagi.
4. Pandai / Pintar
Jangan mencari jodoh gadis kampung atau cewek kota yang memiliki intelegensia di bawah rata-rata. Penampilan hanya luar saja yang cuma enak dalam urusan ranjang serta bisa selalu kita atur dan mungkin bisa kita bobongi, selingkuh di belakangnya, menikah lagi / kawin lagi, dll. Akan tetapi wanita yang bodoh tidak akan mampu membantu mencari solusi pada saat-saat diperlukan dan mungkin akan terkekang selama hidup dengan kita karena harus selalu menurut pada sang suami. Istri yang pintar bisa membantu mengatur rumah tangga dan mungkin bisa juga membantu finansial / keuangan keluarga dengan melakuka usaha sampingan atau bekerja.
5. Tidak Materialistis / Bukan Cewe Matre
Cewe matre ke laut aje emang bener itu lagu. Jangan cuma cari cewek dari cantiknya saja, tapi dari hatinya. Sebanyak apa pun uang yang kita dapat dari bekerja tidak akan cukup untuk menghidupi seorang isteri matre tidak tahu diuntung. Bisa jadi ketika anda sudah tidak punya uang dan pekerjaan layak anda akan ditinggalkan sendiri begitu saja bersama anak-anak.
6. Kalem / Emosi Stabil Rendah Dan Dapat Menghibur
Istri yang murah senyum, lemah lembut, tidak suka marah dan tidak mudah stres menghadapi problema hidup adalah istri yang baik. Sebelum kawin dan selama berpacaran anda wajib melakukan pengamatan emosional, sikap dan perilaku. Jika pacar anda gampang sekali marah meledak-ledak dan tidak bisa diubah sebaiknya tinggalkan saja. Hidup dimarahi isteri terus-menerus akan membuat anda menderita. Istri yang baik adalah istr yang bisa menghibur di kala suka dan duka dalam berbagai kondisi baik terhadap suami maupun terhadap anak. Pilih juga yang mencintai keluarganya dan keluarga kita masing-masing.
7. Sehat Jasmani Dan Rohani
Pilihlah yang dari segi fisik dan mental / jasmani dan rohani yang sehat wal’afiat. Pilih yang sehat, cerah, gesit, kuat, dan tidak mudah sakit. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin punya keturunan. Jika belum yakin maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kesehatan berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit dapat diturunkan ke anak dan atau cucu.
8. Dapat Dikontrol Dan Mengontrol
Di saat isteri melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, berbicaralah dengan baik tanpa emosi bahwa sebaiknya si istri melakukan apa yang kita inginkan beserta alasannya. Begitu juga sebaliknya, di mana kita dapat dikritik isteri pada sikap dan perilaku kita secara kekeluargaan dan baik-baik. Untuk melakukan hal ini diperlukan adanya kesamaan tingkatan atau derajat di mana suami dan isti sama-sama dalam satu tim kepemimpinan yang solid. Bukan hanya suami saja yang jadi pemimpin dan istri cuma manut-manut saja. Umumnya untuk dapat tipe cewek semacam ini adalah yang umur sepantar dan sama-sama pintar.
9. Persetujuan Orang Tua, Keluarga, Teman Dan Sebagainya
Hubungan suami isteri harus didukung oleh orang-oang yang ada di sekitar kita mulai dari orang tua, mertua, teman, kerabat, saudara, teman, tetangga, teman kantor, dan lain-lain. Pernikahan yang emsional tanpa dukungan orang dekat dapat berdampak buruk bagi hubungan di masa mendatang. Yang jelas jika belum mendapat persetujuan, anda harus dapat berbicara dengan baik untuk membela argumentasi anda.
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan untuk saat ini pada situs Organisasi.Org ini, kurang lebih mohon maaf dan terima kasih.
Memilih pasangan hidup memang harus hati-hati. Bibit bobot bebet bukan hanya sekedar nasehat tidak penting dari orang tua. Itu benar-benar sesuatu yang harus dipertimbangkan. Tapi ada beberapa hal simple yang bisa membantu kita dalam tahap pendekatan awal untuk bisa mempertimbangkan apakah orang ini layak diperjuangkan untuk menjadi kandidat pasangan kita kedepan nanti.
1. Bagaimana reputasinya?
Seringkali kita bermimpi “untuk mengubah seorang yang liar menjadi orang yang baik hati”, namun mimpi itu tidak selalu menjadi kenyataan. Karena itu jika reputasi orang yang kita sukai itu sangat buruk di luar sana , kita sebaiknya berhati-hati dan berpikir dua kali atau mungkin tiga kali.
2.Kenali setiap percakapan dengannya.
Dalam setiap percakapan, yang penting untuk kita ketahui ialah apakah ia seorang “pecinta diri sendiri” atau bukan. Jika ia tipe yang selalu fokus pada dirinya ketimbang pada kita, ini tanda kurang baik, terutama jika kita ingin serius dengannya di kemudian hari.
3. Ketahui sejarah percintaannya.
Apakah gebetan kita ini terkenal sebagai si tukang gonta ganti pacar? Jika mantan pacarnya ada 12 padahal umurnya baru 23 tahun, kita benar-benar harus hati-hati, karena itu berarti dia bermasalah dengan satu kata yang berjudul ‘komitmen’. Bisa-bisa kita hanya akan menjadi “pacar nomor 13″ untuknya.
4. Apakah kita nyaman bersamanya?
Ada orang yang kita sukai tapi membuat kita sendiri tidak nyaman. Mungkin karena bahasanya yang kasar, cara berpakaiannya yang -jujur saja- membuat malu, atau tingkah lakunya yang kadang tidak sopan. Jika ya, lebih baik pikir-pikir dulu untuk menjadikan dia kekasih pujaan hati.
5. Bagaimana ia pada keluarganya.
Bagaimana ia memperlakukan keluarganya Dan bagaimana ia berhubungan dengan saudara-saudaranya adalah hal penting yang disimak. Peringatan besar muncul jika orang yang anda sukai suka memusuhi adiknya sendiri atau kasar pada orang tuanya. Karena kelak kita akan menjadi satu keluarga besar.
6. Sadari pengaruh kehadirannya pada kerohanian anda.
Ini poin yang paling penting. Sebelum kita dan si dia memulai hubungan yang lebih serius, kita harus mulai bisa menilai dari berbagai sisi, apakah kehadiran orang istimewa kita itu memberi pengaruh baik bagi kerohanian kita atau tidak. Apakah kehadirannya membuat kita rajin berdoa atau malah jadi malas berdoa sama sekali? Apakah bersamanya membuat kita jadi jatuh dalam dosa atau tidak? Poin utamanya ialah, bersama dengan dirinya harus membuat hidup rohani kita naik dan bukan turun!! Jika bersama dengannya membuat rohani kita menjadi lemah, tinggalkan saja angan untuk bersamanya.
7. Bayangkan yang jauh kedepan.
Maksudnya, kita harus mulai punya bayangan sebuah pernikahan dengan dirinya. Jika membayangkan untuk menjadi istri/suami nya saja membuat kita merasa aneh, jangan lanjutkan. Bayangkan juga apakah ia bisa menjadi ayah/ibu yang baik bagi anak-anak kita nanti. Kalau sikap dan karakternya sangat meragukan untuk itu, berarti ini sebuah lampu merah untuk kita.
8. Orang lain harus dihargai.
Pendapat orang tua, pendapat sahabat, pendapat pimpinan, harus kita dengarkan. Biasanya mereka yang sudah “buta oleh cinta” tidak bisa melihat segala sesuatu dengan objektif. Karena itu pendapat orang penting dipertimbangkan. Jika semua orang terdekat berkata tidak, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan kembali keputusan anda.
Jika hampir semua dari 8 hal sederhana diatas mengarah ke sesuatu yang negatif tentang orang yang kita sukai tersebut, mengapa harus pusing lagi? Orang-orang sekeliling kita boleh menyebarkan kebohongan bahwa “kita harus punya pacar!!”. Padahal tidak. Begitu banyak perceraian yang terjadi karena kebohongan ini. Mereka memaksakan diri berpacaran dengan orang yang salah hanya karena ingin punya pacar dan akhirnya menikahi orang salah itu.
Dan penyesalan hanya datang kemudian, “andai aku lebih berhati-hati waktu pacaran dulu”. Karena itu, tidak ada salahnya bagi kita untuk MENUNGGU sampai orang yang terbaik untuk kita dari Tuhan tiba.
Dengan banyaknya perkembangan pengetahuan tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan, penelitian juga membuktikan bahwa saat ini kemungkinan suatu pernikahan akan sukses atau gagal dapat diperkirakan sebelum hari pernikahan dengan kemungkinan sebesar 81%. Dari penelitian ini dan dari pengalaman saya sebagai konselor bimbingan pra-nikah, saya menyimpulkan 7 hal yang memungkinkan terjadinya kesalahan dalam memilih orang untuk dijadikan pasangan seumur hidup anda:
Jika ada sesuatu yang paling mengejutkan saya, itu adalah ketika ada 2 orang yang mengatakan bahwa mereka telah saling mengenal selama beberapa bulan, dan sekarang mereka siap untuk menikah. Saya ingin mengatakan, “Apa? Apakah anda tahu apa artinya “sampai seumur hidup anda”? Itu berarti ribuan kali makan pagi bersama, melalui semua jenis krisis keuangan bersama, menghadapi sakit fisik dan depresi bersama, menghadapi kekecewaan besar bersama, mungkin bahkan melihat satu sama lain bertambah tua dan kehilangan kontrol fisik. Dan anda pikir anda siap untuk membuat keputusan seperti ini hanya setelah beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa bulan?”<o:p></o:p>
Tentu saja, biasanya saya bisa menenangkan diri saya lebih dahulu. Saat sebuah pasangan siap untuk memutuskan akan menikah setelah hanya beberapa minggu atau beberapa bulan pacaran, saya mengasumsikan keputusan mereka lebih didasarkan pada fantasi daripada realita. Ini adalah sebuah indikasi bagi saya bahwa tanggung jawab dari pernikahan telah dianggap sepele, dan bahwa kedewasaan yang dibutuhkan untuk kesuksesan pernikahan jangka panjang masih belum dikembangkan. Prospek dari suatu pernikahan harus dapat kita lihat dari berbagai sisi, kita analisa dari saat-saat senang dan saat-saat buruk. Saya tidak bermaksud menjadi tidak realistis, tapi saya yakin bahwa jika pasangan mengambil waktu sekitar 2 atau 3 tahun untuk mempertimbangkan kualitas dari hubungan mereka, mereka mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk membuat keputusan yang bijaksana dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk keputusan yang menyangkut perubahan hidup ini, anda perlu bersabar dalam mengumpulkan dan mempertimbangkan semua data. Ambil waktu anda, ini lebih mudah daripada anda harus hidup selama bertahun-tahun dalam hubungan yang menyakitkan dan harapan-harapan yang tidak terpenuhi.<o:p></o:p>
- Keputusan menikah dibuat pada usia yang terlalu muda<o:p></o:p>
Saat 2 orang yang berusia di bawah 20 tahun menghampiri saya dan mengungkapkan rencana mereka untuk menikah, saya langsung membaca tanda bahaya. <st1:place w:st=”on”>Para</st1:place> peneliti sosial menyatakan bahwa orang-orang yang menikah pada usia muda jarang dipersiapkan untuk memahami peranan mereka dalam pernikahan. Orang-orang yang masih muda belum dapat memilih pasangan hidup dengan efektif karena mereka belum mengenal diri mereka sendiri dengan baik. Pembentukan identitas diri masih belum utuh pada orang-orang yang masih muda, karena mereka belum menemukan detail-detail keunikan mereka, belum menentukan tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara spesifik, belum belajar bagaimana hidup mandiri, dan mereka belum berada pada posisi yang tepat untuk mengetahui jenis orang seperti apa dan dengan siapa mereka dapat menjalin komitmen dan hubungan yang berarti untuk seumur hidup. Mereka masih membutuhkan lebih banyak pengalaman hidup. <o:p></o:p>
Lalu pada usia berapa seharusnya seseorang menikah? Ini bergantung pada banyak faktor, seperti tingkat kedewasaan, kemampuan untuk menghidupi diri sendiri, kemajuan dalam pendidikan, dan lainnya. Intinya, jika anda ingin menghilangkan salah satu penyebab kegagalan pernikahan, pertimbangkan dengan serius untuk menunggu sampai anda telah mengembangkan identitas dan tujuan-tujuan hidup anda secara pribadi. Dengan ini, anda akan dapat memilih pasangan berdasarkan “diri anda yang telah cukup matang”.<o:p></o:p>
banyak alasan mengaap orang terlalu “bernafsu” untuk segera menikah. Kadang mereka khawatir hati pasangan mereka akan berubah. Kekuatiran ini membuat mereka semakin ingin bertindak cepat. Atau mereka mungkin telah lelah menghabiskan malam minggu sendirian dan mereka berpikir sekali menikah mereka tidak akan merasa kesepian lagi. Terlalu “bernafsu” untuk menikah biasanya dikaitkan dengan kegairahan yang kuat dan dalam tentang pernikahan. <o:p></o:p>
Tentu saja pernikahan itu menyenangkan, namun jika 2 orang menikah dengan dimotivasi oleh kegairahan yang berlebihan, mereka gagal untuk mengenali tanggung jawab yang juga besar dari pernikahan, dan mereka ingin melewati ujian dari waktu. Mereka begitu bergairah dan gagal untuk mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari keputusan mereka. Kegairahan yang berlebihan sangat mudah dideteksi, dan jelas merupakan salah satu penyebab dari kegagalan pernikahan. Keputusan seumur hidup seperti menikah membutuhkan pikiran dan pertimbangan yang jernih, tidak terburu-buru. <o:p></o:p>
- Salah satu atau keduanya memilih pasangan untuk menyenangkan orang lainnya<o:p></o:p>
Mengapa orang mau memilih pasangan hidup untuk menyenangkan orang lain? Sebagai seorang psikolog, jawaban atas soal itu mudah. Kebanyakan dari kita berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, dan beberapa dari kita mengorbankan seluruh identitas pribadi kita untuk membuat semua orang lainnya bahagia. Berkali-kali saya menjumpai pasangan yang salah satunya memilih pasangannya karena ingin menyenangkan orang tuanya atau orang penting lainnya. Itu tidak akan berhasil! Untuk membuat keputusan yang baik, anda harus membuatnya berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan tujuan-tujuan hidup dari diri anda sendiri, bukan orang lain.<o:p></o:p>
Apakah ini berarti anda seharusnya tidak mendengarkan apa yang orang-orang penting di sekitar anda katakan tentang pilihan anda? Tentu saja tidak. Keluarga dan teman-teman anda mengenal anda dengan baik, dan mereka ingin anda bahagia. Jadi sebaiknya anda mendengarkan saran mereka dan mempertimbangkan pendapat mereka. Namun terkadang orang-orang ingin anda membuat mereka bahagia. Meskipun mereka tidak mengenal anda sebaik anda mengenal diri anda sendiri, dan meskipun anda-lah yang akan hidup bersama dengan pasangan anda bertahun-tahun, mereka ingin anda mengijinkan mereka yang membuat keputusan. Saya sering mengatakan, “Jangan biarkan seorangpun memilih pasangan hidup anda dan jangan ijinkan diri anda untuk memilih pasangan hidup untuk memuaskan orang lain. Ini pernikahan anda, kesempatan sekali seumur hidup anda!”<o:p></o:p>
Saya sering menemukan bahwa pihak-pihak ini seringkali adalah orang tua. Mereka mempunyai pendapat, mungkin karena pengalaman hidup mereka, mereka berpikir bisa membuat keputusan yang lebih baik dibanding anda. Mereka bisa saja benar, namun mereka bisa juga salah. Apapun kasusnya, ini adalah keputusan anda, dan jika anda membiarkan orang lain memutuskan untuk anda, anda mengambil resiko tinggi mengalami sakit hati jangka panjang. <o:p></o:p>
Sebagai orang tua dari putri-putri saya, saya dan istri saya benar-benar ingin tahu tentang pilihan dan pertimbangan mereka dalam hal pasangan hidup. Jika ada hal-hal yang perlu didoakan oleh orang tua, mendoakan pasangan hidup anak-anak sudah seharusnya berada di urutan teratas, setiap anak membutuhkan arahan dan berkat dari orang tua. Namun berjam-jam yang saya habiskan untuk konseling mengajarkan saya satu hal penting: pengaruh orang tua -walau kadang tanpa sepatah katapun yang terucap- sangat kuat terhadap anak-anak mereka. Betapapun hati-hatinya seseorang, setiap anak punya kecenderungan kuat untuk memilih pasangan karena dorongan (dukungan) atau larangan orang tuanya. Jika orang tua pintar, mereka akan mengetahuinya pada saat keputusan harus diambil. Mereka akan memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada anak mereka untuk membuat keputusan berdasarkan data-data yang ada, namun pilihan itu haruslah merupakan pilihan anak mereka. <o:p></o:p>
Jika orang tua berpikir anak mereka tidak mampu mempertimbangkan data yang ada karena belum cukup berkembang secara pibadi, atau karena mereka masih bermasalah dengan diri mereka sendiri, mereka dapat mendorong dia untuk mencari konseling sebelum menikah. Tapi saat mereka menentukan pilihan, itu haruslah merupakan pilihan dia yang bebas dan independen, yang dapat mereka jalani selama mereka hidup. Saya sangat mendorong anda untuk memperhatikan setiap pendapat yang anda terima sebelum anda menentukan pilihan. Pendapat orang lain adalah penting, pengajaran yang anda terima adalah penting, dan bacaan yang anda pelajari akan sangat membantu. Setelah semua itu, dengarkanlah suara hati anda sendiri. Tantangan terbesar dalam hidup anda adalah ketika anda berdiri di tengah-tengah semua pendapat, informasi, dan perasaan, lalu membuat keputusan yang bijaksana.<o:p></o:p>
Apapun yang akan anda lakukan, jangan kacaukan hidup anda dengan membuat suatu keputusan hanya karena anda tidak ingin menyakiti calon pasangan anda, atau karena anda takut teman anda berpikir yang negatif tentang anda, atau karena semua undangan sudah tersebar, atau bahkan karena seseorang mengatakan bahwa anda dan calon pasangan anda adalah pasangan yang cocok satu sama lain.<o:p></o:p>